PENDIRI NU PERTAMA CABANG LUAR NEGERI
Seperti telah dimaklumi bahwa jamiyyah NU pada mulanya adalah
'Komite Hijaz. Ketika komite ini sepakat untuk mengirimkan utusan
ke Muktamar Islam di Makkah, timbul pemikiran untuk membentuk
jamiyyah sebagai institusi yang berhak mengutus delegasi terse
but. Maka atas usul KH. Mas Alwi bin Abdul Aziz, jamiyyah terseput
diberi nama Nahdlatul Ulama.
Untuk bisa mengirim utusan ke Makkah, tentu butuh biaya tidak kit
Untuk itu diadakan panitia pengumpulan dana. setelan dand terKumpul, maka
pada bulan April 1926, tiga orang yang bertanggung jawaD dalam masalah
pengumpulan dana kembali diutus untuk menghubungi KH. R. Asnawi di
Kudus guna membicarakan soal keberangkatannya ke Muktamar di Makkah.
Semua tugas berhasil dilaksanakan dengan mulus, KH. R. Asnawi pun telah
siap untuk bertolak ke Makkah. Segera setelah itu, Kiai Wahab menghubungi
perusahaan pelayaran kapal di Pelabuhan Tanjung Perak. Tetapi hasilnya cukup
mengejutkan. Kapal yang akan ditumpangi baru saja berangkat menuju Saudi
Arabia.
Kiai Wahab segera memutar otak, menghubungi pelabuhan Singapura
dengan mengirim telegram. Tapi juga gagal, jawaban dari Singapura kapal
baru saja bertolak menuju Makkah.
Terakhir, diadakan musyawarah kilat dipimpin Kiai Wahab sendiri dan
memutuskan mengirim mosi (surat) ke Muktamar di Makkah melalui telegram.
Dua kali sudah telegram dikirim, namun jawaban dari Raja lbnu Sa'ud takjuga
kunjung tiba. Akhirnya, Kiai Haji Raden Asnawi batal menghadiri Muktamar
Islam yang bersejarah itu.
Kegagalan ini, bukan berarti menutup kesempatan yang lain. Rencana
menghadap Raja lbnu Sa'ud harus tetap berhasil. Terlebih lagi, berita mengenal
keadaan tanah Hijaz (kala itu) masih simpang siur. Satu pihak memberitakan
madzhabempat masih tetap berjalan sebagaimana biasa, teta pi pihakyang lan
memberitakan tanah Hijaz hanya aman untuk pendukung paham Wahabi. Atas
dasar itu, NU kemudian memutuskan mengirim deleqasi untuk menghadap
langsung kepada Raja lbnu Saud. Meskipun materi (permasalahan) yang
akan disampaikan sama seperti semula, delegasi yang akan diberangkatkan
mengalami perubahan. Kali ini yang berangkat bukan lagi KH. R. Asnaw
melainkan Kiai Wahab Chasbullah dan Syekh Ahmad Ghanaim Al Amiri
Mishri. Kiai Wahab Chasbullah bertolak dari Tanjung Perak Surabaya pada
hari Kamis, Syawal 1346 H bertepatan dengan 29 Maret 1928 dan singgah
beberapa hari di Singapura.
Seminggu setelah keberangkatan Kiai Wahab, Ahmad Ghanaim menyusul
ke tempat yang sama. Selama 15 hari berada di Singapura, Kiai Wahab sempat
mengadakan pertemuan dengan para tokoh masyarakat Singapura, seperti
Syekh Ahmad Hakim, Fadlullah Suhaimi, Ancik Mas'ud, Dr. Munsyi dan lain-
lainnya, guna menjelaskan maksud dan tujuan NU menghadap Raja lbnu Sa'ud.
Setelah para tokoh agama Singapura paham betul mengenai tujuan utamna
NU, yakni mendesak lbnu Sa'ud agar memberikan kebebasan bermadzhab
Ahlussunnah wal jamaah di tanah Hijaz, maka mereka bersedia mendukung
dan bahkan kemudian mendirikan NU Cabang Singapura.ll
Ditulis oleh Choirul Anam diambilkan dari buku karya Choirul Anam, Pertumbuhan dan
Perkembangan NU.